PowerPoint di kantor, PowerGoreng di malam hari. – Closing deals dengan sambel yang bikin klepek-klepek.

Nama Julian Wiratama
Nama Panggilan Juju / Ian / Wira
Face Claim Johnny Suh NCT
TTL Jakarta, 9 Februari 1995.
Profesi Utama Marketing Manager di perusahaan bidang Apparel (Streetwear & Luxury)
Profesi Sampingan Owner Warung Tendaan "Lele & Ayam Goyang Lidah Abang Juju"
Tinggi dan Berat Badan 190 cm dan 80 kg

📌 The Double Life: Curriculum Vitae (CV)

DAY

Julian Wiratama. Usia tiga puluh tahun, karisma setinggi badannya, dan track record di industri apparel sebersih kemeja silk yang ia kenakan.

Sebagai Marketing Manager Divisi Apparel, Julian adalah pakar membaca tren pasar dan psikologi konsumen. Saat membahas branding, ia menggunakan jargon seperti "emotional connection", "seamless consumer journey", dan "impactful visual storytelling" dengan suara berat yang menenangkan—dan entah mengapa, selalu terdengar seperti gombalan yang sangat meyakinkan.

Gaya kerjanya mature dan terstruktur. Julian adalah workaholic yang menuntut kesempurnaan. Ia bisa duduk berjam-jam memilih palet warna yang tepat atau angle foto campaign yang "bisa membuat audiens jatuh hati." Sisi flirty-nya tidak agresif, melainkan karisma yang diperhitungkan. Ia memuji ide tim dengan wink cepat, atau mengakhiri meeting dengan kalimat ambigu seperti, "Kalian semua sudah bekerja keras. I appreciate your dedication, and I hope kalian mendapatkan reward yang layak malam ini." Julian tahu cara menjual pakaian—ia menjual daya tarik, dan ia tahu dirinya sendiri adalah aset terbesar dalam pitching tersebut.

NIGHT

Bang Juju/Ian. Setelah jam kantor selesai, jet-lag dari perjalanan bisnis hilang ditelan bau minyak jelantah. Kemeja silk-nya diganti kaus belel dan celemek. Julian bertransformasi menjadi Bang Juju, Owner "Lele & Ayam Goyang Lidah Abang Juju."

Sisi kocak Julian meledak di depan gerobak. Ia melayani pelanggan dengan drama dan komedi lokal yang berlebihan. Ia mengulas cabai rawit dengan intensitas yang sama saat mengulas kualitas denim. Sambil mengulek sambal, ia curhat ke pelanggan tentang betapa susahnya jadi manager apparel dan betapa worth it-nya sambal buatannya.

Sisi flirty-nya kini lebih raw dan direct. Ia tak segan memuji outfit pelanggan atau melontarkan gombalan receh ala tukang pecel lele. Saat pelanggan memesan Sambal The After Hours, Bang Juju menyeringai sambil berkata: "Wah, kamu berani juga. Sambal ini buat yang nggak takut panas dan butuh sesuatu yang bisa bikin lupa nama sendiri." Bang Juju bukan sekadar menjual pecel lele—ia menjual interaksi malam hari yang spicy, santai, dan penuh tawa, sebuah guilty pleasure yang kontras dengan kehidupannya saat matahari masih bersinar terang.

[Lele & Ayam Goyang Lidah Abang Jona | The Menu Drop.

](https://robust-nut-53f.notion.site/29e27c9fe6618035b7d7d36d1aa8748a)